Anggapan banyak org bahwa depresi = stress sebenarnya keliru.
Yang benar,stress adalah pemicu depresi,bila penyebab dari stress tersebut di atasi,stress pun hilang.Sedangkan depresi merupakan suatu penyakit kejiwaan dari seseorang karena gangguan sistem kimia pada otak.
Depresi juga merupakan gangguan mood,yaitu kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir,berperasaan,dan berperilaku) seseorang.Depresi bisa timbul oleh faktor biologi maupun psikososial.Secara biologik,depresi dikaitkan dengan faktor genetik (keturunan) dan gangguan pada sistem neurotransmiter di otak yang berperan dalam perilaku seseorang. Secara psikososial,depresi timbul karena kekeliruan dalam pola asuh masa kanak-kanak,peristiwa kehidupan yang menyakitkan,buruknya dukungan sosial dan gangguan hubungan antar personal.
Menutup diri dan pemahaman yang salah.
Penderita depresi sering memilih untuk menyimpan sendiri beban pikiran dan perasaannya.Lebih-lebih para profesional yang tak ingin “IMAGE-nya” luntur. Bahkan pada tingkat penanganan terbukti rendahnya deteksi dini oleh dokter umum di pelayanan primer,sehingga banyak pasien depresi yang mengeluhkan pusing,maag,dan kelelahan hanya di beri obat-obatan untuk penyakit tersebut tanpa memeriksa lebih lanjut apakah si pasien mengalami gejala depresi atau tidak.
Rendahnya pemahaman ini menyebabkan maraknya sikap dan perilaku keliru terhadap penderita depresi. Pada saat yang sama,depresi pun di anggap sebagai perwujudan orang yang lemah iman, atau kurang bertakwa. Ini semakin membuat penderita depresi menyembunyikan keluhannya.
Bagaimana menangani?
Depresi yang berkepanjangan selain akan menyebabkan gangguan kesehatan mental yang lebih fatal pada individu yang bermasalah,juga bisa mempengaruhi produktivitas rekan sekantor,maupun keluarga di rumah,bahkan masyarakat luas. Kunci utama dalam menanganinya adalah adanya komitmen dan kesungguhan untuk menyelesaikannya.
Kawan,keluarga adalah yang pertama-tama harus mengerti (dan mau menolong) penderita depresi. Berikutnya adalah masyarakat sekitar dan komunitas informal,seperti pesantren. “Asal jangan ada anggapan depresi itu karena lemah iman,pandanglah depresi sebagai penyakit.” Ke psikiater dan RS jiwa adalah langkah terakhir penanganan untuk penderita depresi.
Tetapi tak salah jika menjadikan agama sebagai terapinya,selain upaya medis. Ada ungkapan “Jika anda tertekan,jika beban anda semakin berat,semakin dekatkan diri kepada Tuhan.” Bicaralah padaTuhan. Katakan kepada-Nya masalah anda. Katakan hal itu dengan hati terbuka. Andapun akan merasakan kekuatan-Nya mengalir dalam diri anda..



0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.