Bali No.1 Nursing Info & Education

Entries categorized as ‘berita baru’

Nyeri Ulu Hati

January 1, 2009 · Leave a Comment

Diasuh oleh tim dokter RS Mediros


Tanya:
Saya seorang berumur 37 tahun. Sekitar tiga atau empat minggu yang lalu perut saya terasa sakit terutama di daerah ulu hati, disertai mual-mual dan muntah-muntah. Rasa sakit makin lama makin bertambah dan menjalar ke perut kanan dan sampai ke punggung. saya belum pernah sakit maag, dan saya mengira saya menderita sakit maag. Saya minum obat maag yang saya beli bebas di apotik supaya sakit berkurang, tapi ternyata rasa sakitnya tidak kunjung hilang akhirnya saya dibawa ke rumah sakit dan dianjurkan untuk dirawat karena sakitnya makin hebat. Saya menjalani pemeriksaan laboratorium, rontgen, juga USG. Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter menyimpulkan saya menderita penyakit Pankreatitis.

Pertanyaan saya :
Apakah penyakit Pankreatitis berbahaya?
Apa saja yang bisa menimbulkan penyakit pankreatitis?
Apakah saya perlu operasi?
Apakah ada hubungannya dengan penyakit gula? (more…)

Categories: Info Penyakit · berita baru
Tagged:

Waspada Terhadap Makanan dan Minuman Yang Masuk ke Perut

January 1, 2009 · Leave a Comment

1. BEKAS BOTOL AQUA

Mungkin sebagian dari kita mempunyai kebiasaan memakai ulang botol plastik (Aqua, VIT, etc) dan menaruhnya di mobil atau di kantor. Kebiasaan ini tidak baik, karena bahan plastic botol (disebut juga sebagai polyethylene terephthalate or PET) yang dipakai di botol2 ini mengandung zat2 karsinogen (atau DEHA). Botol ini aman untuk dipakai 1-2 kali saja, jika anda ingin memakainya lebih lama, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh di tempat yang jauh dari matahari. Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat karsinogen itu bisa masuk ke air yang kita minum. Lebih baik membeli botol air yang memang untuk dipakai ber-ulang2, jangan memakai botol plastik. (more…)

Categories: Info Penyakit · berita baru
Tagged:

DBD SERING DIKELIRUKAN PENYAKIT LAIN

December 11, 2008 · Leave a Comment

Memasuki musim penghujan ini, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mengganas
dimana-mana. Kecemasan orangtua semakin luar biasa, bila saat ini anaknya mengalami
demam apa pun penyebabnya. Pikiran pertama yang muncul di kepala adalah apakah anak
saya menderita demam berdarah dengue (DBD)? DBD adalah penyakit infeksi yang
demikian ganas. Bila terlambat ditangani, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan
jam kondisi anak bisa masuk dalam keadaan kritis.
Adakalanya seorang penderita DBD terlambat dalam penegakan diagnosis. Saat hari
pertama demam didiagnosis dokter sebagai infeksi tenggorokan, kemudian hari
berikutnya berubah diagnosisnya menjadi penyakit campak. Saat hari ke 3, setelah
dilakukan pemeriksaan laboratorium ditambah diagnosis gejala tifus. Baru saat hari
ke 4 dan ke 5 keadaan memburuk dan meninggal, ternyata diagnosis penyebab
kematiannya adalah DBD.
Masyarakat awam, bahkan seorang dokter berpengalaman sekaliber profesorpun kadang
sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD ini. Gejala DBD amat luas, hampir semua
infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Sehingga saat awal penyakit, DBD
seringkali dikelirukan dengan penyakit laiunnya. Gejala khas seperti perdarahan pada
kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit.
Tragisnya bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit
diselamatkan. Untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, mungkin perlu diketahui
penyakit apa sajakah yang menyerupai DBD ?
Demam Berdarah Dengue
Virus dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali,
yaitu 35-45 nm. Manifestasi klinisnya ditandai gejala-gejala klinik berupa demam,
nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi pada infeksi ini
timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 derajat Celcius) dan dapat disertai
dengan menggigil. Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain.
Demam ini hanya berlangsung sekitar lima hari. Pada saat demamnya berakhir, sering
kali dalam bentuk turun mendadak dan disertai dengan berkeringat banyak. Saat itu
anak tampak agak loyo. Kadang-kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam
yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal
kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas
sebagai punggung unta).
Kadang-kadang ruam tersebut hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga
memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan dan kaki. Manifestasi klinis lainya
adalah sakit kepala, nyeri perut, mual, muntah, kadang disertai diare atau sulit
BAB. Gejala lain yang menyertai adalah perfarahan di kulit, hidung atau saluran
cerna.
PENYAKIT YANG MENYERUPAI
Melihat banyaknya tanda dan gejala klinis yang ditimbulkan DBD seringkali terjadi
kekeliruan diagnosis pada awalnya. Pada awal penyakit, infeksi DBD menyerupai
berbagai penyakit bakteri, virus atau infeksi prozoa. Penyakit tersebut meliputi
demam tifoid, campak, influenza, infeksi tenggorokan (faringitis), demam cikungunya,
leptospiros, malaria atau kelaianan darah. Bahkan beberapa kasus DBD sering
dikelirukan dengan infeksi usus buntu.
Demam Tifus
Demam tifus adalah penyakit yang sering dikelirukan dengan DBD. Seringkali
seseorang didiagnosis DBD bersamaan dengan penyakit tifus. Penyebab “pitfall” atau
kekeliruan tersebut adalah kerancuan dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan Widal
atau uji laboratorium untuk mendiagnosis demam tifus. Ternyata seringkali pada
penderita hasil pemeriksaan widal juga meningkat, padahal belum tentu mengalami
infeksi tifus. Pemeriksaan widal adalah mendeteksi antibodi atau kekebalan tubuh
terhadap tifus, bukan mendeteksi adanya kuman atau berat ringannya penyakit tifus.
Pada penyakit tifus pemeriksaan widal biasanya meningkat saat minggu ke dua. Bila
saat minggu pertama hasil pemeriksaan widal tinggi maka mungkin harus dicurigai
adanya “false positif”, atau kesalahan hasil positif yang diakibatkan faktor lain.
Ternyata pada pada beberapa penelitian pendahuluan ddidapatkan beberapa penyakit
infeksi virus atau infeksi DBD, dapat meningkatkan reaksi tes widal. Manifestasi ini
sering terjadi pada penderita hipersensitif atau penderita yang sering mengalami
riwayat alergi.
Manifestasi klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat
bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis demam tifoid
tidak khas dan sangat lebar, dari asimtomatik atau gejala saluran cerna seperti
nyeri mual, muntah, diare dan sulit BAB.Hal ini mempersulit penegakan diagnosis
berdasarkan gambaran klinisnya saja. Perbedaan sederhan dan mudah dilihat adalah
pola kenaikkan demamnya. Pada infeksi virus atau DBD seringkali demam mendadak
tinggi dalam 2 hari awal dan akan menurun pada hari ke 3-5. Sedangkan sebaliknya
pada demam tifus, demam akan semakin meningkat sangat tinggi setelah hari ke 3-5.

Campak.
Penyakit DBD sering mirip dengan penyakit Campak karena timbulnya ruam pada kulit.
Ruam yang terjadi dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing, yaitu
berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari
ke-4 sakit berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak.
Perbedaan khas yang terjadi, pada DBD biasanya ruang akan berkurang saat hari ke 4
dan ke 5 dan akan menghilang setelah hari ke 6. Sedangkan pada campak, ruam timbul
hari ke 3 setelah itu semakin banyak setelah hari ke 6-7 warna merah berubah menjadi
kehitaman hingga seminggu.
Demam Cikungunya
DBD seringkali mirip dengan infeksi virus yang lain seperti Demam Cikungunya (DC).
Perbedaannya, pada DC beberpa anggota keluarga dapat terseng dengan gejala yang
mirip. Manifestasi DC adalah demam mendadak, masa demam leih pendek, suhu lebih
tinggi, hampir selalu disertai ruam,mata kemerahan dan nyeri sendi.
Apendicitis akut
Terdapat sebuah kasus yang tragis dan memilukan yaitu seorang anak dilakukan operasi
usus buntu (apendiktomi). Ternyata penderita tidak mengalami infeksi usus buntu
(apendicitis akut) tetapi mengalami DBD. Penderita akhirnya meninggal karena
penyakit DBDnya. Ternyata anak yang mempunyai riwayat sering nyeri perut dalam
keadaan sehat, saat mengalami infeksi virus atau DBD timbul gejala nyeri perut yang
sangat berat yang sangat mirip keluhan infeksi usus buntu.
Kelainan darah
Perdarahan pada penyakit DBD seringkali mirip dengan penyakit lain sseperti infeksi
meningitis, sepsis atau kelainan darah ITP (Idiopatic Trombocytopenic Purpura (ITP),
leukimia dan anemia aplastik. Meskipun beberapa penyekit tersebut relatif sangat
jarang terjadi.


MEMASTIKAN DBD
Berbagai pengalaman dan manifestasi klinis penyakit yang menyerupai DBD tersebut
menjadi pelajaran terbaik bagi para klinisi dan masyarakat. Kecermatan dan
ketelitian sangat diperlukan dalam mencurigai penyakit yang mirip DBD.
Manifestasi klinis yang khas pada DBD adalah memperhatikan secara cermat pola
demamnya. Pola demam DBD saat hari pertama dan kedua demam sangat tinggi, hari
ketiga turun disusul hari ke 4-5 demam naik tetapi tidak setinggi.awal demam. Gejala
lain yang khas adalah saat hari ke 3-5 penderita tampak lemas, loyo atau berbaring
dan tidur sepanjang hari. .
Hal paling penting untuk membedakannya adalah adanya pemeriksaan darah yang
menunjukkan trombosit menurun (trombositopenia) dan hematokrit (PCV/HCT) yang
meningkat (hemokonsentrasi). Tetapi repotnya, perubahan hasil laboratorium tersebut
hanya terjadi setelah hari ketiga fase demam. Sebaiknya dalam pemeriksaan darah
dilakukan saat hari ke 3, pada hari pertama dan kedua hasil normal tidak
menyingkirkan adanya DBD. Pemeriksaan widal (untuk mendiagnosis tifus) sebaiknya
dilakukan saat awal minggu kedua. Saat demam minggu pertama bila curiga demam tifus
dapat digunakan IgM Tifoid. Meskipun spesifitas dan sensitifitas pemeriksaan ini
juga belumlah terlalu baik.
Overdiagnosis DBD atau overestimate DBD mungkin lebih baik saat terjadi kenaikkan
angka kejadian DBD seperti musim penghujan ini. Karena keterlambatan diagnosis DBD
akan lebih menyulitkan penanganan dan dapat meningkatkan angka kematian yang lebih
tinggi.

(Sumber: Dari berbagai sumber)

Categories: berita baru

Perawatku = my nurshing

September 5, 2008 · Leave a Comment

Perawat adalah sumber daya kesehatan terdekat dengan masyarakat yang telah dimiliki pemerintah yang terlupakan untuk dilibatkan lebih besar dalam mengatasi problematika kesehatan masyarakat. Sebenarnya, hanya memerlukan stimulus sederhana saja untuk menggerakan mesin yang selama ini idle dibanding dengan menyediakan mesin kesehatan primer baru yang berbiaya mahal. Upaya yang mestinya dilakukan adalah memberikan kewenangan dan perlindungan hukum yang kuat agar perawat bisa menjadi pilar pelayanan kesehatan primer di masyarakat. Melalui peraturan atau undang-undang, kewenangan dan perlindungan diberikan kepada perawat perawat yang kompeten untuk bertanggungjawab di lini depan pelayanan kesehatan dasar (primer) yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas. Menjadikan perawat yang saat ini ada untuk dapat tampil maksimal di masyarakat tidaklah sulit dan mahal. Melalui kerjasama dengan pemerintah daerah, LSM dan organisasi profesi dengan jaringan yang luas serta dukungan perawat yang saat ini sangat tinggi, sistem registrasi, sertifikasi dan lisensi sebagai proses profesionalisasi perawat akan berjalan dengan baik. Dalam waktu singkat, perawat profesional akan menyebar keseluruh pelosok negeri untuk memberikan jaminan pelayanan praktik yang berkualitas sebagai hak asasi manusia. Kapan ya ???

Categories: berita baru