Bali No.1 Nursing Info & Education

Entries from December 2008

Deteksi Gangguan Hati Lewat Warna Urin

December 26, 2008 · Leave a Comment

Salah satu organ vital dalam tubuh manusia adalah hati (liver). Dalam organ itu, terjadi proses-proses penting, yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun/obat yang masuk dalam tubuh.

Jika terdapat kerusakan pada hati, otomatis akan mengganggu fungsi tubuh seseorang. Salah satu kerusakan pada hati yang dikenal adalah kolestasis.

Koslestasis terjadi akibat kegagalan hati memproduksi dan pengeluaran empedu. Seseorang yang menderita kolestasis mengalami kesulitan dalam penyerapan lemak dan vitamin A, D, E, K oleh usus. Selain itu kolestasis juga menyebakan adanya penumpukan asam empedu, bilirubin dan kolesterol di hati. (more…)

Categories: Info Penyakit · Uncategorized

Batu empedu

December 26, 2008 · Leave a Comment

Apakah batu empedu itu ?
Batu Empedu adalah timbunan kristal di dalam kantong empedu atau di dalam saluran empedu. Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut kolelitiasis, sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut koledokolitiasis.

Apa penyebabnya ?

Batu empedu lebih banyak ditemukan pada wanita dan faktor resikonya adalah : kegemukan (obesitas), diet tinggi lemak, usia lanjut, dan faktor keturunan. (more…)

Categories: Info Penyakit

BERIKAN PERHATIAN PADA HATI ANDA

December 26, 2008 · Leave a Comment

  • Hati (liver) merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia. Di dalam hati terjadi proses-proses penting bagi kehidupan kita, yaitu proses penyimpanan energi, pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol, dan penetralan racun/obat yang masuk dalam tubuh kita. Sehingga dapat kita bayangkan akibat yang akan timbul apabila terjadi kerusakan pada hati. Beberapa Penyakit Hati antara lain :
  1. Penyakit hati karena infeksi (misalnya hepatitis virus)
    Yaitu ditularkan melalui makanan & minuman yang terkontaminasi, suntikan, tato, tusukan jarum yang terkontaminasi, kegiatan seksual, dll. (more…)

Categories: Info Penyakit

AIDS

December 11, 2008 · Leave a Comment

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang menurunkan kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerjasama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia mereka. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.
Hukuman sosial bagi penderita yang terkena HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut mengenai petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Categories: Uncategorized

DBD SERING DIKELIRUKAN PENYAKIT LAIN

December 11, 2008 · Leave a Comment

Memasuki musim penghujan ini, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mengganas
dimana-mana. Kecemasan orangtua semakin luar biasa, bila saat ini anaknya mengalami
demam apa pun penyebabnya. Pikiran pertama yang muncul di kepala adalah apakah anak
saya menderita demam berdarah dengue (DBD)? DBD adalah penyakit infeksi yang
demikian ganas. Bila terlambat ditangani, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan
jam kondisi anak bisa masuk dalam keadaan kritis.
Adakalanya seorang penderita DBD terlambat dalam penegakan diagnosis. Saat hari
pertama demam didiagnosis dokter sebagai infeksi tenggorokan, kemudian hari
berikutnya berubah diagnosisnya menjadi penyakit campak. Saat hari ke 3, setelah
dilakukan pemeriksaan laboratorium ditambah diagnosis gejala tifus. Baru saat hari
ke 4 dan ke 5 keadaan memburuk dan meninggal, ternyata diagnosis penyebab
kematiannya adalah DBD.
Masyarakat awam, bahkan seorang dokter berpengalaman sekaliber profesorpun kadang
sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD ini. Gejala DBD amat luas, hampir semua
infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Sehingga saat awal penyakit, DBD
seringkali dikelirukan dengan penyakit laiunnya. Gejala khas seperti perdarahan pada
kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit.
Tragisnya bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit
diselamatkan. Untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, mungkin perlu diketahui
penyakit apa sajakah yang menyerupai DBD ?
Demam Berdarah Dengue
Virus dengue penyebab DBD termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali,
yaitu 35-45 nm. Manifestasi klinisnya ditandai gejala-gejala klinik berupa demam,
nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam yang terjadi pada infeksi ini
timbulnya mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-40 derajat Celcius) dan dapat disertai
dengan menggigil. Pada saat anak mulai panas ini biasanya sudah tidak mau bermain.
Demam ini hanya berlangsung sekitar lima hari. Pada saat demamnya berakhir, sering
kali dalam bentuk turun mendadak dan disertai dengan berkeringat banyak. Saat itu
anak tampak agak loyo. Kadang-kadang dikenal istilah demam biphasik, yaitu demam
yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal
kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas
sebagai punggung unta).
Kadang-kadang ruam tersebut hanya timbul pada daerah tangan atau kaki saja sehingga
memberi bentuk spesifik seperti kaos tangan dan kaki. Manifestasi klinis lainya
adalah sakit kepala, nyeri perut, mual, muntah, kadang disertai diare atau sulit
BAB. Gejala lain yang menyertai adalah perfarahan di kulit, hidung atau saluran
cerna.
PENYAKIT YANG MENYERUPAI
Melihat banyaknya tanda dan gejala klinis yang ditimbulkan DBD seringkali terjadi
kekeliruan diagnosis pada awalnya. Pada awal penyakit, infeksi DBD menyerupai
berbagai penyakit bakteri, virus atau infeksi prozoa. Penyakit tersebut meliputi
demam tifoid, campak, influenza, infeksi tenggorokan (faringitis), demam cikungunya,
leptospiros, malaria atau kelaianan darah. Bahkan beberapa kasus DBD sering
dikelirukan dengan infeksi usus buntu.
Demam Tifus
Demam tifus adalah penyakit yang sering dikelirukan dengan DBD. Seringkali
seseorang didiagnosis DBD bersamaan dengan penyakit tifus. Penyebab “pitfall” atau
kekeliruan tersebut adalah kerancuan dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan Widal
atau uji laboratorium untuk mendiagnosis demam tifus. Ternyata seringkali pada
penderita hasil pemeriksaan widal juga meningkat, padahal belum tentu mengalami
infeksi tifus. Pemeriksaan widal adalah mendeteksi antibodi atau kekebalan tubuh
terhadap tifus, bukan mendeteksi adanya kuman atau berat ringannya penyakit tifus.
Pada penyakit tifus pemeriksaan widal biasanya meningkat saat minggu ke dua. Bila
saat minggu pertama hasil pemeriksaan widal tinggi maka mungkin harus dicurigai
adanya “false positif”, atau kesalahan hasil positif yang diakibatkan faktor lain.
Ternyata pada pada beberapa penelitian pendahuluan ddidapatkan beberapa penyakit
infeksi virus atau infeksi DBD, dapat meningkatkan reaksi tes widal. Manifestasi ini
sering terjadi pada penderita hipersensitif atau penderita yang sering mengalami
riwayat alergi.
Manifestasi klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat
bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis demam tifoid
tidak khas dan sangat lebar, dari asimtomatik atau gejala saluran cerna seperti
nyeri mual, muntah, diare dan sulit BAB.Hal ini mempersulit penegakan diagnosis
berdasarkan gambaran klinisnya saja. Perbedaan sederhan dan mudah dilihat adalah
pola kenaikkan demamnya. Pada infeksi virus atau DBD seringkali demam mendadak
tinggi dalam 2 hari awal dan akan menurun pada hari ke 3-5. Sedangkan sebaliknya
pada demam tifus, demam akan semakin meningkat sangat tinggi setelah hari ke 3-5.

Campak.
Penyakit DBD sering mirip dengan penyakit Campak karena timbulnya ruam pada kulit.
Ruam yang terjadi dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing, yaitu
berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari
ke-4 sakit berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak.
Perbedaan khas yang terjadi, pada DBD biasanya ruang akan berkurang saat hari ke 4
dan ke 5 dan akan menghilang setelah hari ke 6. Sedangkan pada campak, ruam timbul
hari ke 3 setelah itu semakin banyak setelah hari ke 6-7 warna merah berubah menjadi
kehitaman hingga seminggu.
Demam Cikungunya
DBD seringkali mirip dengan infeksi virus yang lain seperti Demam Cikungunya (DC).
Perbedaannya, pada DC beberpa anggota keluarga dapat terseng dengan gejala yang
mirip. Manifestasi DC adalah demam mendadak, masa demam leih pendek, suhu lebih
tinggi, hampir selalu disertai ruam,mata kemerahan dan nyeri sendi.
Apendicitis akut
Terdapat sebuah kasus yang tragis dan memilukan yaitu seorang anak dilakukan operasi
usus buntu (apendiktomi). Ternyata penderita tidak mengalami infeksi usus buntu
(apendicitis akut) tetapi mengalami DBD. Penderita akhirnya meninggal karena
penyakit DBDnya. Ternyata anak yang mempunyai riwayat sering nyeri perut dalam
keadaan sehat, saat mengalami infeksi virus atau DBD timbul gejala nyeri perut yang
sangat berat yang sangat mirip keluhan infeksi usus buntu.
Kelainan darah
Perdarahan pada penyakit DBD seringkali mirip dengan penyakit lain sseperti infeksi
meningitis, sepsis atau kelainan darah ITP (Idiopatic Trombocytopenic Purpura (ITP),
leukimia dan anemia aplastik. Meskipun beberapa penyekit tersebut relatif sangat
jarang terjadi.


MEMASTIKAN DBD
Berbagai pengalaman dan manifestasi klinis penyakit yang menyerupai DBD tersebut
menjadi pelajaran terbaik bagi para klinisi dan masyarakat. Kecermatan dan
ketelitian sangat diperlukan dalam mencurigai penyakit yang mirip DBD.
Manifestasi klinis yang khas pada DBD adalah memperhatikan secara cermat pola
demamnya. Pola demam DBD saat hari pertama dan kedua demam sangat tinggi, hari
ketiga turun disusul hari ke 4-5 demam naik tetapi tidak setinggi.awal demam. Gejala
lain yang khas adalah saat hari ke 3-5 penderita tampak lemas, loyo atau berbaring
dan tidur sepanjang hari. .
Hal paling penting untuk membedakannya adalah adanya pemeriksaan darah yang
menunjukkan trombosit menurun (trombositopenia) dan hematokrit (PCV/HCT) yang
meningkat (hemokonsentrasi). Tetapi repotnya, perubahan hasil laboratorium tersebut
hanya terjadi setelah hari ketiga fase demam. Sebaiknya dalam pemeriksaan darah
dilakukan saat hari ke 3, pada hari pertama dan kedua hasil normal tidak
menyingkirkan adanya DBD. Pemeriksaan widal (untuk mendiagnosis tifus) sebaiknya
dilakukan saat awal minggu kedua. Saat demam minggu pertama bila curiga demam tifus
dapat digunakan IgM Tifoid. Meskipun spesifitas dan sensitifitas pemeriksaan ini
juga belumlah terlalu baik.
Overdiagnosis DBD atau overestimate DBD mungkin lebih baik saat terjadi kenaikkan
angka kejadian DBD seperti musim penghujan ini. Karena keterlambatan diagnosis DBD
akan lebih menyulitkan penanganan dan dapat meningkatkan angka kematian yang lebih
tinggi.

(Sumber: Dari berbagai sumber)

Categories: berita baru